Monday, 22 June 2015

Sebuah Kunci Kebahagiaan Untuk Ku
“Ridha Allah ada di Ridha orang tua, dan Kemurkaan-Nya ada di kemurkaan orang tua”.  
(H.R. Tirmidzi)
Saat aku berusia dua belas tahun sampai delapan belas tahun ,  aku tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang ibu . Saat aku jatuh sakit , saat aku membutuhkan bimbingan dalam belajar , saat aku ingin berbagi cerita harianku , saat aku ingin memakan masakan kesukaanku , saat aku menghadapi haid pertamaku , saat masalah menghampiriku  dan  saat aku mendapat penghargaan atas prestasiku ibu tidak pernah  berada  menemaniku . Sangat irinya diriku saat melihat teman-teman yang lain bisa merasakan kebahagiaan yang tak bisa kurasakan saat mereka bisa menjalani semuanya ditemani oleh ibu mereka . Aku selalu mencoba memahami kesibukan ibu di rumah , keterbatasan financial ,  waktu dan jarak yang cukup jauh untuk mengunjungiku .Tetapi , sangat beruntungnya diriku aku tumbuh menjadi pribadi yang mandiri , dewasa , berprestasi , patuh terhadap kedua orang tua dan selalu taat beribadah padaNya . Sebuah kunci kebahagiaan dari ibu yang selalu ku ingat , ibu berkata  “Anakku jadilah anak yang sholehah dan berbakti kepada kedua orang tua “ . Semangat belajarku , menjadi pribadi yang lebih baik selalu hadir saat aku mengingat kunci kebahagiaan dari ibu  dan perasaan bahwa ibu tidak menyayangiku hilang bersama angin yang berhembus saat ku menghayati setiap kata dari kunci kebahagiaan tersebut .
Begitu bahagianya saat – saat aku berada di samping ibu . Rasanya selama enam tahun tidak bersama ibu terbayarkan sudah . Aku bisa tinggal bersama kembali dengan ibu dan keluargaku . Aku  berusaha untuk tidak melewatkan waktu sedetikpun untuk keluargaku dan  berbakti pada kedua orang tuaku . Aku mulai memahami mengapa dulu ibu demikian terhadapku . bukan karena ibu tidak sayang kepadaku . Tetapi , karena beberapa hal yang membuat ibu tidak bisa memberikan kasih sayangnya langsung kepadaku . Ibu adalah tulang punggung yang kedua setelah ayah dalam keluargaku . Setiap hari ibu berjualan lauk pauk dan sayur matang  di rumah hampir waktunya tak ada jeda dimulai dari belanja sayur mayur sampai mengolah sayur mayur menjadi sayur matang , melayani pembeli serta melakukan perannya sebagai seorang ibu terhadap anak-anaknya . bahkan , untuk istirahat saja sulit . Sering sekali aku melihat ibu tertidur saat menyiangi sayur ataupun saat menunggu pembeli datang . Wajahnya tampak lelah dan letih , badannya kurus dan tak terurus , penglihatan dan pendengarannya mulai terganggu , dan  langkah kakinya pun mulai lamban . Berdosanya aku apabila aku membiarkannya sendiri melakukan semua pekerjaannya .
Tidak sengaja  aku melihat ibu meneteskan air matanya . lalu , aku menghampirinya dan bertanya kepadanya .
“Mengapa ibu menangis ? “ tanyaku pada ibu .
“Ibu tidak apa –apa nak . Ibu hanya kelelahan dan mengantuk saja .” jawabnya dengan lirih sambil mengusap – usap rambutku .
“Ibu istirahat saja . Biarlah aku yang melanjutkan pekerjaan ibu “ . jawabku lembut sambil menggenggam tangan ibu .
“Nak , Ibu bersyukur kamu tumbuh menjadi anak yang sholehah . Ibu berdoa semoga kamu sukses dan bisa membahagiakan ibu , ayah dan adik – adik mu . Kamu bisa menaikan haji ibu dan ayahmu , memiliki pendidikan yang tinggi , membelikan  rumah , mobil  , memiliki perusahaan besar , dan yang paling penting  jangan sombong apabila nanti kamu sudah bisa memiliki semuanya .” Dengan meneteskan air mata dan memelukku , ibu memiliki impian terhadapku  yang harus aku raih untuk kebahagiaannya .
“Iya bu , aku akan mengingat pesan ibu , aku akan melaksanakan semua perintah Ibu , Aku akan menjaga dan mengurus ibu sampai tua nanti , bahkan sampai aku menutup mata untuk selamanya karena ibu adalah suri teladan yang baik untukku . Kelemah lembutan ibu dalam menasehatiku , kesabaran ibu dalam menanggapi keegoissanku dan semua sifatku yang selalu membuat ibu sedih selama ini  , ketelatenan ibu dalam mendidikku , dan masih banyak sekali yang telah ibu berikan padaku yang tak bisa aku sebut satu persatu . Maafkan aku ibu atas segala khilaf  yang aku lakukan selama ini terhadap ibu . ” Jawabku  sambil mencium kedua pipi ibu .
“Iya anakku sayang , Ibu sudah memaafkan kamu sebelum kamu meminta maaf kepada Ibu . Sudah  jangan menangis lagi ya nak . nanti ibu juga akan sedih .” Jawab Ibu sambil memelukku erat .
“Ibu istirahat ya ! aku akan melanjutkan pekerjaan ibu .” Pintaku padanya

Aku tak bisa menahan air mata yang menetes membasahi pipiku sambil menyapu lantai meneruskan pekerjaan rumah ibu aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan membuat ibu bersedih dan akan mewujudkan semua impian – impian ibu terhadapku . Dengan berdoa , keseriusan , dan bekerja keras , semua impian – impian ibu akan segera bisa kuwujudkan.
Hari berganti hari , bulan berganti bulan , tahun berganti tahun aku selalu menjadikan ibu sebagai teladan dan motivasiku untuk mewujudkan semua impian – impiannya . Dan tak lelah juga ibu selalu mendampingiku dalam menggapai asa ku . Sungguh saat – saat yang sangat menyenangkan . Aku bisa melewatkan setiap impian yang satu persatu mulai terwujud bersama ibu , ayah dan keluargaku . Aku berharap semoga semua impian – impian itu bisa terwujud .

Kadang prasangka , tak selamanya benar
Kadang ketidakpedulian , tak selamanya tidak menyayangi
Kadang kasih sayang , tak memerlukan tindakan secara langsung
Kadang luka tertoreh , tanpa disadari
Kadang sebuah kata yang terlihat sangat sederhana , memiliki kekuatan yang besar untuk sebuah perubahan nyata .

Tak terasa semua impian ibu terwujud . Aku sangat bersyukur padaNya atas segala karuniaNya . Memberiku ibu , ayah dan keluarga yang luar biasa dan keimanan pada Mu yang kian kuat kurasakan setiap harinya . Aku telah belajar dari pengalaman yang ku lalui , betapa pentingnya berbakti kepada kedua orang tua khususnya berbakti kepada seorang ibu . Walaupun pengalaman yang ku lalui tak semuanya indah , aku masih tetap akan menyimpan dan berbagi pengalamanku kepada anak – anakku kelak . Dan saat ini yang aku rasakan hanyalah rasa beruntung memiliki keluarga seperti kalian . Aku akan selalu menyayangi kalian sampai ku menutup mata . @nazalyae
  


No comments:

Post a Comment